5 Alasan Kamu Harus Baca Buku Filosofi Menikmati Hidup

Daftar Isi
Buku Filosofi Menikmati Hidup (sanampanbook.id)

Saat berada di kehidupan sosial, kebanyakan dari kita mungkin pernah mendengar ungkapan “Lebih cepat lebih baik!” untuk banyak aspek dalam hidup. Orang-orang yang terlihat memperoleh banyak hal dengan cepat seringkali dianggap lebih sukses. 

Mereka yang mendapat pekerjaan bergengsi dengan sekali coba, mereka yang bisa menemukan tambatan hati dengan cepat, atau juga mereka yang sudah memiliki saldo rekening yang banyak di usia yang sangat muda seringkali menjadi tolak ukur keberhasilan seseorang. 

Semua hal itu seolah memberikan kita pandangan bahwa itu adalah cara hidup bahagia. Seakan-akan bergerak dengan cepat dan sesegera mungkin adalah cara paling ideal yang harus selalu kita lakukan setiap saat. 

Padahal, nyatanya bisa jadi tidak demikian. Berikut adalah alasan mengapa kamu perlu baca buku Filosofi Menikmati Hidup karya Katla Malatika agar kamu kembali sadar bahwa hidup adalah sebuah perjalanan dan bukan perlombaan. 

1. Mengingatkanmu bahwa Ritme Cepat Tidak Selalu Berarti

ilustrasi berlari (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Di awal buku, kamu akan diajak merenungkan ulang sebuah fakta bahwa kehidupan ini adalah kehidupan yang singkat. Kamu mungkin akan diajak berpikir bahwa dalam kecepatan yang kita pilih, beberapa hal penting justru terlewati. 

Hal ini mungkin sama ketika seseorang menonton film dan memilih untuk mempercepatnya untuk mengetahui ending dari sebuah film. Tapi justru ketika mempercepat film itu, ternyata ada bagian penting dari film yang dilewatkan. 

Bisa jadi ada part penting yang terlihat membosankan, tapi justru menjadi bagian inti yang mempengaruhi alur cerita. Hal serupa mungkin akan sama dengan kehidupan ini. Kita yang seringkali memilih terburu-buru bisa jadi melewatkan pelajaran penting yang seharusnya kita sadari. 

Ada bagian yang seharusnya kita nikmati tanpa perlu tergesa-gesa. Bisa jadi kita yang bergegas ingin mencapai sesuatu justru tak tahu betul apakah itu adalah yang benar-benar kita inginkan atau tidak. Lebih buruknya lagi, bisa jadi kita berlomba-lomba mengejar sesuatu hanya karena orang lain juga mengejarnya.

2. Mengajarkanmu untuk Menikmati Momen

ilustrasi kebersamaan (pexels.com/Helena Lopes)

Pada bagian selanjutnya dari buku, kamu akan diberikan sebuah pertanyaan sederhana yang mendalam, “Jika kamu diberi waktu yang singkat untuk bisa bersama orang yang dicintai, bagaimana memanfaatkan waktu tersebut? Apakah untuk menciptakan momen bahagia, atau justru meratapi perpisahan yang akan terjadi?” 

Pertanyaan tersebut bisa jadi mudah dijawab atau justru sulit dijawab olehmu. Intinya kamu akan diajak merenung apakah selama ini kamu memanfaatkan momen kebersamaan atau justru sebaliknya. 

Perpisahan dengan orang yang kita cintai adalah sebuah kepastian yang tidak terelakkan. Cepat atau lambat, kita akan mengucapkan selamat tinggal pada siapapun yang kita temui, sekalipun itu orang yang paling berharga bagi kita. 

Hidup dengan arus yang serba cepat mungkin membuatmu lupa bahwa momen kebersamaan adalah salah satu hal yang juga harus kita pilih dalam beberapa pilihan. Dengan begitu, kita akan menjalani hidup tanpa penyesalan karena telah mengabaikan pertemuan yang seharusnya dinikmati bersama. 

3. Memberimu Insight bahwa Slow Living juga Penting 

ilustrasi bersantai (pexels.com/RDNE Stock project)

Di era yang serba cepat ini, tuntutan hidup seakan menyeret kita pada aktivitas yang tiada hentinya. Terkadang, saat kita memilih berhenti sejenak, justru timbul perasaan bersalah dalam diri karena merasa membuang-buang waktu dan malas-malasan. 

Padahal berhenti sejenak juga diperlukan entah untuk refleksi diri atau sekedar melepas penat sebelum kembali berjuang. Berhenti sejenak dan malas-malasan tentunya adalah dua hal yang berbeda. 

Dalam hidup yang serba cepat ini tidak jarang membuat fisik dan mental kita kelelahan. Karena itulah, buku ini akan mengajarkanmu bahwa gaya hidup slow living juga perlu dipilih. Slow living atau gaya hidup lambat akan mengajarkanmu untuk tetap berjuang dengan ritme yang lebih santai namun tetap fokus pada target. 

Slow living tentu juga berbeda dengan gaya hidup malas. Dalam bagian buku ini, kamu akan diberitahu apa saja yang perlu kamu ketahui sebelum menerapkan gaya hidup slow living. Hal ini bertujuan agar kamu tidak keluar dari konsep slow living itu sendiri dan justru membenarkan atau mencari alasan untuk tidak berjuang.

4. Mengajarkanmu untuk Tidak Larut dalam Masalah

ilustrasi optimis dalam menghadapi masalah (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Siapa yang menginginkan masalah dalam hidup? Tentu tidak ada. Namun nyatanya masalah bukanlah sesuatu yang bisa kita hindari dalam kehidupan ini. Setiap orang punya problematika sendiri dalam hidup yang tentu berbeda antara satu sama lain. 

Kesulitan dalam hidup tak jarang membuat kita kalang kabut dan merasa tak ada harapan untuk bangkit. Namun, apakah kita harus berlarut-larut dalam kekacauan itu?

Dalam buku Filosofi Menikmati Hidup, kamu akan menemukan satu bab yang membahas tentang hal itu. Nyatanya, dibandingkan berlarut-larut dalam perasaan yang kalut, kita bisa memilih cara untuk meresponnya. 

Bahkan sekalipun kegagalan itu datang dalam hidup, nyatanya hal itu bukanlah akhir dari segalanya. Dalam buku ini kamu akan diajak untuk belajar merangkul kegagalan yang kamu alami.

5. Bahasa yang Sederhana dan Mudah Dipahami

ilustrasi mudah memahami bacaan (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Salah satu alasan mengapa kamu perlu membaca buku ini adalah karena bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Bagi kamu yang tidak terlalu bahasan terlalu berat dan scientific, buku ini tentunya tepat untukmu. Kamu bisa membacanya dengan santai dan belajar bagaimana cara berjuang meraih target kehidupanmu sembari menikmati hidup tanpa perlu merasa terbebani.

Kamu akan belajar perspektif baru bahwa hidup melambat tak selalu buruk asalkan kamu mengerti bagaimana cara menerapkannya dengan baik. Kamu akan memahami bahwa hidup tak selalu tentang “tancap gas”. 

Terkadang, justru beberapa pilihan dalam hidup butuh diputuskan dan dilakukan dalam ritme yang lebih lambat. Buku ini cocok untuk kamu yang baru mulai ingin menumbuhkan hobi membaca namun tak ingin bacaan dengan bahasa yang terlalu tinggi. 

Tentu masih ada beberapa detail lain yang bisa kamu pelajari lewat buku ini. Intinya, keputusan untuk memperjuangkan sesuatu dengan ritme yang lebih lambat tidaklah salah selama kamu melakukannya dengan tepat. 

Kamu tak perlu terburu-buru untuk mencapai banyak hal dalam hidup hanya karena standar sosial yang mengatakan bahwa kesuksesan berasal dari sesuatu yang diperoleh dengan cepat. Kamu punya ritme sendiri dan pilihlah caramu sendiri untuk memperjuangkan sesuatu. 

Jika kamu memang lebih nyaman berjuang dengan ritme yang cepat, maka itu tak salah. Namun jika kamu memilih melambat, maka tentu itu juga tak salah. Selamat membaca dan semoga kamu lebih menikmati segala hal yang terjadi dalam hidupmu!

***

Tentang Penulis

Ahmada Rahmadhani, seorang perempuan kelahiran Sidoarjo yang tertarik dalam dunia kepenulisan. Menulis baginya adalah salah satu ekspresi jiwa yang mampu mengurai pikiran yang penuh. Menulis, pendidikan, dan bahasa Inggris adalah beberapa hal yang berusaha ia tekuni akhir-akhir ini. Ia dapat dihubungi melalui emailnya, ahmadarahmadhani@gmail.com

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

1 komentar

Comment Author Avatar
Anonim
Sabtu, 01 Maret, 2025 Hapus
Setiap orang tentunya punya tahapan start yang berbeda - beda tetapi bukan berarti pilihan yang diambil itu sebuah hal yang salah dalam melangkah.