[CERPEN] Sepiring Nasi, Sepiring Kehidupan

Daftar Isi
pexels.com/Porapak Apichodilok

“Kamu itu nggak pernah benar-benar ngerti, Raka! Lihat tuh, nasi di piringmu nggak habis lagi! Berapa kali Ibu bilang, jangan buang-buang makanan!”

Suara Ibu menggema di ruang makan kecil itu. Nada bicaranya penuh emosi, seperti api yang membakar udara. Raka hanya mendengus, malas menanggapi. Ia menyandarkan tubuh di kursinya, menatap piring yang masih menyisakan setengah dari nasi yang sudah dingin. 

“Ya ampun, Bu. Cuma nasi segini aja, kok, Ibu ribet banget, sih?” sahutnya sambil melipat tangan di dada. Wajahnya penuh rasa kesal.

Ibu Raka berhenti membereskan meja dan menatap anaknya dengan tajam. Mata perempuan setengah baya itu menyiratkan kelelahan yang dalam. “Raka, kamu tahu nggak, Ibu masak nasi itu dari pagi, dari beras yang Ibu beli pakai uang hasil jualan sayur. Bapakmu banting tulang di sawah, tapi kamu malah buang-buang begitu aja?”

Raka berdiri, menarik napas panjang. “Halah, Ibu lebay. Aku nggak minta masak nasi juga, kan? Udah, nggak usah ceramah!” Ia meninggalkan meja makan dengan langkah berat, membanting pintu kamar di belakangnya.

Ibu hanya terdiam. Pandangannya jatuh ke piring yang masih penuh dengan sisa nasi. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Di luar, suara jangkrik mulai terdengar, mengiringi malam yang semakin pekat.

Keesokan harinya, Raka berjalan santai di pinggir jalan setapak yang menghubungkan rumahnya dengan pasar desa. Ia tak punya tujuan pasti, hanya ingin menghabiskan waktu di luar rumah. Matahari pagi masih hangat, tetapi suara langkahnya di atas kerikil terdengar berat, seperti hatinya yang penuh dengan rasa jenuh. 

Saat ia melewati tempat pembuangan sampah di ujung jalan, matanya menangkap sosok seorang lelaki tua. Orang itu membungkuk, memunguti sesuatu dari tumpukan sampah. Bajunya lusuh, penuh tambalan, dan tubuhnya terlihat kurus kering. Raka berhenti sejenak, memperhatikan dari kejauhan.

Lelaki tua itu mengangkat sebuah kotak makanan plastik yang sudah penyok. Ia membuka tutupnya dengan hati-hati, lalu memungut sisa nasi di dalamnya. Dengan tangan gemetar, ia menyuapkan nasi itu ke mulutnya. 

Raka tertegun. “Orang makan nasi dari tempat sampah?” pikirnya dalam hati. Rasa jijik langsung menyelimuti dirinya. Namun, entah kenapa, ada sesuatu di dalam hati kecilnya yang membuatnya ingin mendekat. 

Perlahan, ia melangkah mendekati lelaki tua itu. “Pak, lagi ngapain?” tanyanya, mencoba berbicara dengan nada biasa.

Orang tua itu menoleh. Wajahnya dipenuhi kerutan, kulitnya kecokelatan karena terbakar matahari. Tapi senyumnya hangat, meski bibirnya terlihat kering dan pecah-pecah. “Oh, ini, Nak. Saya cuma nyari sisa makanan buat dimakan. Lumayan, masih ada yang bisa dimakan,” jawabnya ringan, seolah-olah itu adalah hal yang biasa.

Raka mundur selangkah, bingung harus berkata apa. “Tapi... itu kan dari tempat sampah, Pak. Nggak jijik?”

Orang tua itu tertawa kecil. “Kalau lapar, Nak, rasa jijik itu hilang sendiri. Yang penting, perut terisi. Kamu tahu, nggak semua orang seberuntung kamu, bisa makan nasi hangat di rumah,” ucapnya sambil melanjutkan makan.

Kata-kata itu menusuk hati Raka. Ia teringat piring nasinya yang sering ia tinggalkan begitu saja di meja makan. Ia terdiam, merasa ada sesuatu yang salah dengan dirinya. Namun, ia tidak tahu harus berbuat apa.

“Pak... kenapa Bapak nggak minta makan ke orang lain aja? Kan, lebih baik daripada makan dari tempat sampah,” tanya Raka, mencoba mencari alasan untuk memahami situasi ini.

Lelaki tua itu menggeleng pelan. “Nak, meminta itu berat. Bapak sudah tua, nggak punya tenaga buat kerja keras lagi. Jadi, ya... begini aja. Cari sisa-sisa yang masih bisa dimakan. Allah masih kasih rezeki, meskipun lewat tempat sampah.”

Kata-kata itu membuat Raka terdiam lagi. Ia berdiri di sana, memandangi lelaki tua itu yang terus makan dengan tenang, seolah-olah dunia di sekitarnya tak berarti apa-apa.

Sepanjang jalan pulang, kata-kata lelaki tua itu terus terngiang di kepala Raka. “Nggak semua orang seberuntung kamu, bisa makan nasi hangat di rumah.” Ia merasa dadanya sesak. Selama ini, ia selalu mengeluh tentang makanan di rumah. Nasi terlalu keras, lauk terlalu asin, sayur terlalu hambar. Padahal, di luar sana, ada orang yang bahkan tidak tahu apakah mereka bisa makan hari ini atau tidak.

Sesampainya di rumah, ia langsung menuju dapur. Ibu sedang memasak sayur lodeh di atas kompor kayu. Aroma santan memenuhi ruangan sempit itu.

“Bu,” panggil Raka pelan.

Ibu menoleh, sedikit terkejut. “Iya, Nak. Ada apa?”

Raka ragu sejenak, tetapi akhirnya ia berkata, “Bu... maaf soal kemarin. Aku nggak akan buang-buang makanan lagi.”

Ibu terdiam, menatap anaknya dengan sorot mata penuh tanya. “Kamu kenapa, Nak? Tiba-tiba ngomong begitu?”

Raka menggeleng. “Aku cuma sadar aja, Bu. Ternyata, di luar sana... banyak orang yang nggak seberuntung kita. Mereka makan sisa makanan dari tempat sampah. Sedangkan aku...” Ia berhenti, menahan rasa bersalah yang mulai menguasai dirinya.

Ibu menghela napas panjang. Ia mendekati Raka, menepuk pundaknya dengan lembut. “Nak, Ibu nggak marah kalau kamu sadar sekarang. Rezeki itu harus dihargai, sekecil apa pun itu. Karena kalau kita nggak menghargai, bisa jadi Allah nggak kasih kita lagi.”

Raka mengangguk pelan. Kata-kata Ibu seperti menegaskan apa yang sudah ia lihat pagi tadi. Ia merasa ada beban besar yang baru saja dilepaskan dari dadanya.

Sejak hari itu, Raka mulai berubah. Ia selalu menghabiskan makanannya, bahkan ketika ia merasa kenyang. Ia juga mulai membantu Ibu memasak di dapur, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. 

“Bu, kalau aku bantu masak, boleh nggak aku bawa makanan buat orang lain?” tanyanya suatu pagi.

Ibu menatapnya heran. “Boleh, Nak. Tapi buat siapa?”

Raka tersenyum kecil. “Ada teman baru di jalan tadi. Dia nggak punya makanan.”

Ibu mengangguk, meski raut wajahnya masih dipenuhi rasa penasaran. Ia tidak bertanya lebih jauh. Dalam hatinya, ia merasa bahagia melihat perubahan yang terjadi pada anaknya.

Hari itu, Raka membawa sebungkus nasi dan lauk sederhana ke tempat pembuangan sampah. Ia berharap bisa bertemu lagi dengan lelaki tua yang ia temui sebelumnya. Namun, tempat itu kosong. Hanya ada bau busuk dan lalat yang beterbangan di sekitar tumpukan sampah.

“Pak?” panggilnya, berharap ada jawaban. Tapi tidak ada siapa pun di sana.

Raka menunggu beberapa saat, tetapi lelaki tua itu tidak muncul. Akhirnya, ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas sebuah batu besar, berharap orang tua itu menemukannya nanti.

Hari-hari berlalu, dan Raka tidak pernah bertemu lagi dengan lelaki tua itu. Namun, pertemuan singkat mereka telah meninggalkan jejak yang mendalam dalam hati Raka. Ia belajar untuk menghargai setiap butir nasi di piringnya, setiap rezeki yang ia terima, dan setiap usaha yang dilakukan oleh orang tuanya untuk memberinya kehidupan yang lebih baik.

Suatu malam, saat ia sedang duduk di meja makan bersama keluarganya, ia berkata, “Bu, Pak, makasih ya. Udah kerja keras buat aku. Aku janji nggak akan buang-buang makanan lagi.”

Bapak menatapnya dengan bangga, sementara Ibu tersenyum hangat. “Ibu senang kamu sudah berubah, Nak. Ingat, hidup itu berat. Tapi kalau kita saling menghargai, semuanya jadi lebih ringan.”

Raka mengangguk. Dalam hati, ia bertekad untuk tidak pernah lupa pada pelajaran yang ia dapatkan dari lelaki tua itu. Sepiring nasi bukan hanya sekadar makanan. Itu adalah simbol perjuangan, rezeki, dan kehidupan. 

Dan sejak hari itu, ia selalu mengingat pesan sederhana itu: "Hargailah setiap rezeki yang kamu terima, sekecil apa pun itu, karena tidak semua orang seberuntung kamu."

***

Tentang Penulis

Dia Widyani Tantri. Gadis dari Kota Pempek (Palembang, Sumatra Selatan) yang lahir pada Desember 2001. Saat ini, diapun sudah menyelesaikan pendidikannya, tepatnya pada tahun 2020. Saat cerpen ini diterbitkan, dia berusia 23 tahun 3 bulan. Dia merupakan anak perempuan pertama dari dua bersaudara. Si pencinta warna biru langit. Juga pemilik nama pena Moon Sunrise. Penulis bisa dihubungi melalui: Instagram @Widyani_Tantri

Komunitas Ufuk Literasi
Komunitas Ufuk Literasi Aktif menemani pegiat literasi dalam belajar menulis sejak 2020. Menghasilkan belasan buku antologi dan sukses menyelenggarakan puluhan kegiatan menulis yang diikuti ratusan peserta.

1 komentar

Comment Author Avatar
Kamis, 27 Februari, 2025 Hapus
raka, untung ibumu penyabar. kalo ngga, udah digetok pake centong nasi itu ubun-ubunmu 🙂‍↔

jokes aside, aku udah sering ditekankan orangtua untuk ngehabisin makanan. dan pas udh gede, waktu itu pas sma, orang-orang kayak heran dan bilang, "laper apa doyan?" maksudnya, kan emg harus dihabisin dan gaboleh mubazir